PEREMPUAN DAN PEMBANGUNAN: SAATNYA MENJADI SUBJEK, BUKAN OBJEK

oleh -42 Dilihat

KUTIPNUSANTARA.COM — Di tengah pesatnya arus modernisasi dan semakin kuatnya seruan kesetaraan gender, keterlibatan perempuan dalam proses pembangunan nyatanya masih jauh dari kata optimal. Padahal, peran perempuan bukan sekadar pelengkap, melainkan penggerak utama yang berpotensi besar dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Selasa, 15 Juli 2025

Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa ketika perempuan diberi ruang untuk berpartisipasi secara penuh di sektor ekonomi, politik, sosial, dan lingkungan, hasil pembangunan menjadi lebih inklusif, adil, dan berjangka panjang.

Negara-negara dengan partisipasi perempuan yang tinggi di parlemen dan dunia usaha terbukti memiliki tingkat kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan stabilitas sosial yang lebih kuat.

“Mustahil membangun masa depan yang adil jika separuh potensi masyarakat—yakni perempuan—masih terpinggirkan,” ujar seorang pakar pembangunan berkelanjutan dalam sebuah diskusi nasional pekan lalu.

Pemerintah, institusi pendidikan, masyarakat sipil, dan media ditantang untuk bekerja bersama dalam membuka ruang selebar-lebarnya bagi perempuan untuk berperan aktif.

Mulai dari kebijakan afirmatif, pendidikan yang setara, hingga pemberitaan yang berpihak pada nilai keadilan gender menjadi langkah-langkah konkret yang harus terus didorong.

Lebih jauh, keterlibatan perempuan tak lagi bisa dipandang sebagai simbol emansipasi semata. Ini adalah kebutuhan dasar bangsa yang ingin bergerak maju.

Paradigma pembangunan harus bergeser: dari pembangunan yang eksklusif menjadi pembangunan yang partisipatif dan setara.

Sudah saatnya perempuan tak hanya menjadi penonton, tetapi juga menjadi arsitek pembangunan bangsa. (April/Redaksi)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.