Palopo, KutipNusantara.com – Di bawah temaram lampu lapangan futsal, langkah tim futsal mahasiswa UIN Palopo kembali mengukir prestasi dalam Turnamen Futsal yang diselenggarakan oleh HMTI-UNCP, Senin 16 November 2025.
Keringat, letih, dan napas tersengal tergantikan oleh rasa bangga setelah kembali merebut gelar. Namun di balik kemenangan itu, tersimpan kekecewaan yang sejak lama dipendam para pemain.
Bagi mereka, kemenangan ini terasa hambar. Bukan karena lawan berat atau latihan melelahkan, tetapi karena absennya dukungan dari pihak kampus. Tim merasa perjuangan mereka tidak pernah benar-benar dilihat, apalagi dihargai.
Salah satu keputusan berat yang harus mereka ambil adalah tidak lagi menggunakan nama kampus, UIN Palopo. Pada turnamen tersebut, mereka turun dengan nama “Tim Pabesenan”, bukan lagi membawa identitas almamater.
“Kenapa kami menggunakan nama Pabesenan, bukan UIN Palopo? Karena tidak adanya dukungan dari pihak kampus untuk mengikuti turnamen,” ujar Alsyadat, salah satu pemain, dengan nada kecewa.
Menurutnya, seluruh kebutuhan tim mulai dari biaya pendaftaran, transportasi, hingga pembelian jersey dibiayai secara patungan oleh para pemain. Tidak ada satu pun dukungan finansial dari kampus.
Alsyadat mengaku telah mencoba berkomunikasi dengan Wakil Rektor III UIN Palopo, berharap ada perhatian terhadap upaya mahasiswa yang membawa nama baik universitas di luar kampus. Namun jawaban yang diterimanya justru membuat mereka semakin kecewa.
“Beliau hanya mengatakan bahwa delegasi untuk mengikuti lomba tidak diprogramkan setiap tahun sehingga tidak ada penganggaran. Kalau ada anggaran, kami ikutkan, tapi kalau tidak ada, kami tidak tahu apa-apa,” ungkap Alsyadat, mengutip hasil komunikasi dengan Warek III.
Jawaban tersebut dinilai tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. Beberapa pemain menyebut bahwa kampus mampu menggelar kegiatan besar lain yang sifatnya non-akademik namun tetap menyerap anggaran cukup besar.
Para pemain menegaskan bahwa mereka bukan menuntut fasilitas mewah atau perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap kampus hadir memberi dukungan moral maupun anggaran dasar ketika mahasiswa membawa nama baik universitas dalam event eksternal.
“Tim dari kampus lain datang dengan dukungan penuh institusi, sementara kami hanya bermodalkan tekad dan solidaritas,” kata salah satu pemain lainnya.
Meski kecewa, Tim Pabesenan tetap menunjukkan performa terbaik mereka. Prestasi yang diraih menjadi bukti bahwa mereka berjuang bukan karena difasilitasi kampus, tetapi karena rasa tanggung jawab untuk tidak mengecewakan diri sendiri dan tim.
Kini, para pemain berharap kampus dapat lebih membuka mata terhadap potensi dan semangat mahasiswa. Sebab, prestasi mahasiswa bukan hanya pencapaian individu, tetapi juga cerminan kualitas universitas. (April/Red)


