Danau Matano Tetap Jernih 57 Tahun, Kini Warganya Ingin Langit yang Terbuka

oleh -203 Dilihat

Luwu Timur, Kutipnusantara.com — Dari tanah yang dikenal sebagai Bumi Batara Guru, kini terdengar seruan lantang dari ujung timur Sulawesi Selatan: “Kami tidak minta istana, kami hanya ingin pintu langit yang membuka masa depan!”, Minggu 2 November 2025.

Suara itu datang dari masyarakat Kabupaten Luwu Timur, wilayah yang menjadi nadi energi nasional dengan kekayaan sumber daya alam, industri hijau, dan pesona alam luar biasa. Mereka menyerukan kepada pemerintah pusat agar pembangunan Bandara Komersial Luwu Timur segera diwujudkan.

‎Dari jantung Luwu Timur berdiri Danau Matano, permata biru yang diakui dunia  danau terdalam ke-4 di dunia dan terdalam di Asia Tenggara dengan kedalaman mencapai 590 meter.

‎Meski telah lebih dari setengah abad menjadi pusat industri tambang nikel dunia, airnya tetap jernih dan ekosistemnya terjaga.

‎Sejak 1968, PT Vale Indonesia Tbk dan puluhan IUP di sekitarnya beroperasi tanpa menghilangkan kesucian danau ini. Dari sinilah mengalir energi hijau bagi Indonesia melalui tiga PLTA yang tetap menjaga harmoni antara teknologi dan alam.

Danau Matano bukan hanya keindahan, tapi bukti bahwa kemajuan dan kelestarian bisa berjalan beriringan<span;>,” ujar Prof. Dr. Ir. Zakir Sabara HW, ST., MT., IPM., ASEAN Eng., APEC Eng., Wakil Rektor II UMI Makassar, dalam tulisannya yang kini viral di media sosial.

‎Luwu Timur bukan sekadar daerah tambang , ini adalah jantung energi nasional. Dari PLTA Matano hingga aliran listrik yang menerangi pabrik, rumah, dan kota-kota besar di Sulawesi, semuanya bersumber dari sini.

‎Namun, ironinya wilayah yang menjadi pemasok energi terbesar di kawasan timur Indonesia belum memiliki bandara komersial yang layak.

‎“Sudah saatnya negara hadir. Bandara bukan sekadar fasilitas, tapi simbol keadilan pembangunan,” tegas Prof. Zakir.

‎Pembangunan bandara ini akan membuka jalur udara strategis yang menghubungkan Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara dalam waktu tempuh yang lebih efisien.

Dengan adanya bandara komersial, Luwu Timur akan menjadi pusat konektivitas dan logistik tiga provinsi — mempercepat distribusi barang, memperluas pariwisata, dan membuka peluang investasi di kawasan industri hijau Sorowako hingga wisata danau Matano–Towuti–Mahalona.

‎“Bayangkan wisatawan dari Jakarta, Bali, atau Singapura bisa langsung terbang ke Matano tanpa harus transit jauh. Inilah pintu langit masa depan!”

Sebagai “halaman depan” Indonesia Timur, Luwu Timur telah memberi energi dan sumber daya untuk negeri. Kini masyarakatnya hanya meminta satu hal sederhana: kehadiran negara melalui pembangunan bandara komersial.

‎Bandara Luwu Timur bukan hanya infrastruktur, tetapi simbol pemerataan, konektivitas, dan keadilan pembangunan nasional. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.