Discapil Panas Seperti Oven, AC Cuma Pajangan, Plafon Bocor Saat Hujan, Pengurusan Sulit: Pelayanan Publik atau Ujian Kesabaran?

oleh -38 Dilihat

LUWU TIMUR, Kutipnusantara.com
– Dinas Catatan Sipil lutim, Publik Gerah, Pelayanan Discapil Ditinggal Nyaman oleh Kontraktor & Pimpinan.

Layanan publik seharusnya menjadi wajah profesionalisme pemerintah, Namun yang terjadi di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Discapil) justru sebaliknya — pelayanan yang disajikan seperti “uji ketahanan panas” bagi masyarakat yang Datang mengurus.

Ruangan pelayanan yang seharusnya sejuk dan nyaman justru berubah seperti sauna dadakan. Tiga unit AC terpasang, tapi sama sekali tidak terasa fungsinya.

Suhu ruangan tetap gerah, bahkan membuat warga gelisah dan berkeringat menunggu antrean yang bisa mencapai berjam-jam, belum lagi pengurusan agak dipersulit, “Tegas warga”.

Yang lebih miris terjadi, saat hujan turun, dari plafon malah ikut meneteskan air — menambah penderitaan pengunjung yang sudah cukup menderita akibat AC yang hanya “sejuk secara visual”, Apakah ini kantor negara atau gedung yang terbengkalai?

Masyarakat mulai mempertanyakan peran Kepala Dinas Discapil dan kualitas kerja pihak kontraktor yang mengerjakan proyek ini.

“Kalau proyek cuma dikejar keuntungannya, tapi hasilnya begini, berarti publik dikorbankan. Ini bukan soal estetika, ini soal kenyamanan dan hak warga untuk dilayani secara manusiawi!” ujar salah satu warga dengan nada geram dan tidak mau disebut namanya.

Pertanyaan besarnya: ke mana pengawasan internal dinas? Mengapa fasilitas vital seperti pendingin ruangan dan atap bisa bermasalah padahal sudah ada anggaran? Apakah kontraktor bekerja asal jadi? Atau memang tidak ada niat dari awal untuk memberikan pelayanan yang layak?

Redaksi mendesak Kepala Dinas Discapil segera bertindak. Jangan tunggu viral dulu baru sibuk klarifikasi. Publik tidak butuh alasan, mereka butuh perubahan.

Pelayanan publik bukan panggung pencitraan — ini soal tanggung jawab. Discapil harus sadar: Bahwa kenyamanan warga bukan opsi, tapi kewajiban.
(Lap. NN/Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.