Data Migrasi 2025: Luwu Timur Catat Tingkat Masuk Tertinggi, Tana Toraja Paling Banyak Penduduk Keluar ‎ 

oleh -28 Dilihat

KutipNusantara.com – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan merilis data migrasi seumur hidup tahun 2025, yang membandingkan angka migrasi masuk dan keluar per 100 penduduk di seluruh kabupaten dan kota.

‎Data ini menjadi indikator penting pergerakan penduduk, sekaligus cerminan daya tarik ekonomi, peluang kerja, dan ketersediaan fasilitas di setiap wilayah.

‎Salah satu sorotan utama, Kabupaten Luwu Timur tercatat memiliki angka migrasi masuk tertinggi di Sulsel, sementara Tana Toraja menjadi wilayah dengan tingkat migrasi keluar paling besar.

‎Berdasarkan grafik perbandingan yang dirilis, Luwu Timur mencatatkan angka migrasi masuk mencapai 29,59 per 100 penduduk, angka tertinggi dibandingkan daerah lain.

‎Posisi kedua ditempati Kota Makassar 28,28, disusul Gowa 20,22, dan Kota Parepare 19,17.

‎Tingginya angka masuk ke Luwu Timur tak lepas dari keberadaan sektor pertambangan, pertanian, dan perkebunan yang menjadi penopang ekonomi utama, serta pembangunan infrastruktur yang terus digenjot pemerintah daerah, menjadikan wilayah ini tujuan utama pencari kerja dan pendatang baru.

‎Sisi lain, Tana Toraja menjadi wilayah dengan angka migrasi keluar tertinggi, menyentuh angka 51,15 per 100 penduduk.

‎Diikuti Kota Palopo 42,02, Sinjai 26,34, dan Maros 25,27. Fenomena ini menunjukkan adanya perpindahan penduduk besar-besaran, umumnya mencari peluang pendidikan, pekerjaan, atau fasilitas layanan yang lebih lengkap di daerah lain.

‎Sementara itu, Jeneponto tercatat sebagai wilayah dengan angka migrasi masuk terendah (2,40), dan Bulukumba menjadi daerah dengan angka keluar terendah (9,68).

‎Data ini menjadi bahan evaluasi penting bagi pemerintah daerah. Bagi Luwu Timur, lonjakan pendatang menjadi tantangan sekaligus peluang: perlu peningkatan layanan dasar, perumahan, dan penataan wilayah agar pertumbuhan penduduk berjalan seimbang.

‎Bagi daerah dengan angka keluar tinggi, hal ini menjadi sinyal perlunya terobosan ekonomi baru, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan fasilitas agar masyarakat betah tinggal dan membangun di daerahnya sendiri.

‎Secara keseluruhan, data migrasi ini menjadi dasar perencanaan pembangunan dan logistik kependudukan agar kebijakan yang diambil tepat sasaran dan berkeadilan. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.