Sungai Ussu Kembali Keruh, Warga Sorot Aktivitas Tambang PT PUL

oleh -14 Dilihat

KutipNusantara.com – Warga Desa Ussu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, kembali menghadapi persoalan pencemaran Sungai Ussu yang airnya berubah keruh kecokelatan,  disaat hujan deras mengguyur  dan juga debu disaat kemarau wilayah  tersebut, Rabu 25 maret 2026.

Kondisi ini bukan kali pertama terjadi dan dinilai semakin meresahkan masyarakat.
Sungai Ussu selama ini menjadi sumber kehidupan utama warga, mulai dari kebutuhan  rumah tangga, tambak empang, hingga aktivitas nelayan.

Namun, perubahan warna air yang kian sering terjadi memunculkan kekhawatiran akan dampak jangka panjang terhadap kesehatan dan ekonomi masyarakat.

Warga menduga pencemaran tersebut berkaitan dengan aktivitas pertambangan nikel yang dilakukan oleh PT Prima Utama Lestari (PT PUL) di sekitar wilayah hulu sungai.

Mereka menilai sistem pengelolaan lingkungan perusahaan, khususnya fungsi sediment pond, tidak berfungsi dan  berjalan optimal.

“Katanya Pt. Pul ada sediment pondnya, jika Kalau memang dibilang karena curah hujan tinggi, lalu apa fungsi sediment pond yang dibuat perusahaan? Dulu, meskipun hujan deras, air sungai tidak pernah sekotor ji,” ungkap Fadly warga Ussu.

Menurut masyarakat, sediment pond yang seharusnya berfungsi menahan material lumpur dan limbah tambang agar tidak mengalir ke sungai, justru dianggap tidak efektif.

Setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi, air sungai tetap berubah warna dan berdampak langsung ke pemukiman warga juga disaat kemarau Debu juga tampak bisa ditahan.

Atas kondisi tersebut, masyarakat Desa Ussu mendesak PT PUL untuk bertanggung jawab atas dugaan pencemaran dan kerusakan lingkungan yang terjadi. Mereka juga meminta adanya transparansi dari pihak perusahaan terkait pengelolaan limbah tambang.

Selain itu, warga mendorong pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Luwu Timur serta aparat penegak hukum, untuk segera melakukan investigasi ulang secara menyeluruh.

“Ini bukan soal mencari siapa yang salah, tapi mencari sumber pencemaran dan dampaknya bagi masyarakat,” tegas Ichal warga Ussu.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Prima Utama Lestari belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan warga.

Sementara itu, masyarakat berharap pemerintah daerah dapat mengambil langkah tegas, transparan, serta melibatkan warga dalam setiap proses evaluasi dan pengawasan ke depan.

Kasus ini kembali menjadi sorotan serius, mengingat Sungai Ussu merupakan urat nadi kehidupan masyarakat setempat yang kini terancam oleh dugaan pencemaran lingkungan. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.