KutipNusantara.com — Sebuah pemandangan yang mengkhawatirkan menyambut para pengguna jalan di sepanjang rute Trans Sulawesi-Malili, Desa Ussu, tepatnya di lokasi proyek pelebaran jalan yang tengah berlangsung di Desa Ussu, Selasa (01/09/2026).
Investigasi eksklusif tim KutipNusanta di lapangan mengungkapkan minimnya rambu dan tanda peringatan, yang berpotensi membahayakan nyawa pengendara yang melintas.
Proyek yang tampak jelas dikerjakan oleh PT. SINAR AGUNG JAYA LESTARI, sebagaimana tercantum pada papan proyek yang terpasang di lokasi, terlihat mengabaikan aspek keselamatan lalu lintas yang krusial.
Aktivitas tanpa ada tanda-tanda khusus yang memberi peringatan dini kepada pengendara tentang adanya aktivitas pengerjaan, penyempitan jalan, atau potensi tumpukan material yang bisa menjadi ancaman serius.
Pantauan media ini di lapangan menunjukkan pemandangan yang mendebarkan. Kendaraan-kendaraan yang melaju kencang, baik dari arah Malili maupun Tarengge, sering kali terpaksa melakukan pengereman mendadak tepat di titik proyek.
“Ini sangat berbahaya! Saya hampir saja menabrak tumpukan batu tadi,” ungkap Anton, salah seorang pengendara motor yang tampak shok setelah nyaris terlibat dalam insiden berbahaya.
“Tidak ada rambu, tidak ada yang dilihat dari jauh, ada petugas yang memberi aba-aba, tapi samping mobil truk, Tiba-tiba saja jalan sudah sempit dan ada tumpukan Tanah. Beruntung saya masih bisa menguasai diri.” Tambahnya
Keluhan senada juga disampaikan oleh pengguna jalan lainnya yang tidak sempat menyebut namanya langsung pergi, yang merasa khawatir akan keselamatan mereka.
“Seharusnya pihak kontraktor lebih memperhatikan keselamatan pengguna jalan. Jangan hanya mementingkan pengerjaan, tapi keselamatan publik diabaikan,” tegas Maro Pengendara mobil pick up.
Kekhawatiran publik ini diperkuat dengan pengakuan mengejutkan dari salah seorang pengawas proyek yang enggan disebutkan namanya.
“Adaji rambu peringatan yang sempat dipasang, tapi katanya Dinas PUPR yang mengambilnya. Saya tidak tahu pasti alasannya apa, tapi memang sekarang tanda-tanda itu tidak ada lagi, dan adaji lagi dipasang disana tapi TDK ada orng disana” ungkapnya Adnan Pengawas lapangan PT. SINAR AGUNG JAYA LESTARI dengan nada bingung.
Pernyataan ini semakin menguatkan adanya ketidak jelasan dan koordinasi yang buruk antara pihak pelaksana proyek dan instansi terkait.
Media KutipNusantara.com berupaya untuk mengkonfirmasi hal ini ke PUPR, Babid Bina Marga Hendro menjelaskan bahwa papan baca dipindahkan ketempat yang ada lobang.
“Papan Rambu peringatan jalan itu kami geser ketempat yang ada lobang tapi jauh dari dari Aktifitas proyek yang berjalan, tapi nanti disuruh buatkan lagi” Jelasnya Hendro Kabid Bina Marga
Sementara itu, aktivitas proyek terus berjalan di bawah ancaman keselamatan yang serius bagi pengguna jalan. Tumpukan material tanah yang diletakkan di pinggir hanya Safety Cone diberdirikan dibawah bibir aspal sedangkan dump truk parkir loading diatas jalan, sedangkan dumping menggunakan semua akses jalan tanpa Rambu, apa lagi Safety Cone.
Insiden-insiden kecil seperti ban kendaraan yang bocor/meletus akibat material batu atau tanah timbunan yang tercecer juga dilaporkan sering terjadi di lokasi tersebut.
Kasus ini menjadi sorotan tajam bagi PT. SINAR AGUNG JAYA LESTARI dan instansi terkait untuk segera mengambil tindakan konkrit.
Keselamatan masyarakat tidak boleh dikorbankan demi kelancaran proyek pembangunan. Hingga berita ini diturunkan, Kutipnusantara masih menunggu penjelasan dan langkah konkret dari pihak kontraktor dan instansi terkait untuk menangani masalah ini.
Pengguna jalan diharapkan untuk lebih berhati-hati saat melintas di lokasi proyek tersebut, akan terus memantau perkembangan isu ini dan memberikan informasi terbaru kepada masyarakat dan utamakan keselamatan fokus kedepan, Biar lambat asalkan selamat. (Red)






